Seminar Metode Al Quran dalam Mengobati Penyakit Oleh DR. Ahmad Muhammad El-Thukhi

DR. Ahmad Muhammad El Thukhi


Suasana Bandung kala itu cerah, sehari sebelum datangnya bulan Ramadhan, jalanan ramai lancar dan Tim R&D yang diwakili oleh Koko Nata dan Sri Al Hidayati, juga Marketing diwakili oleh Maulina berkesempatan hadir bertempat di Aula Hotel 88 jalan Asia Afrika sebelah Alun-Alun Bandung. 

Pada hari Sabtu, 18 Maret 2023 hari yang istimewa karena diadakan sebuah seminar bertajuk "Metode Al Quran dalam Mengobati Penyakit" dan pengisi yang hadir adalah seorang Dekan berasal dari Mesir, Fadhilatu DR. Ahmad Muhammad El Thukhi. 

DR. Ahmad Muhammad El Thukhi adalah seorang Dekan Akademi Internasional Studi Bahasa Arab dan Studi Al Quran, Pakar Pengembangan Pendidikan Bahasa Arab dan Tadabbur Al Quran Internasional dan Pakar Metode Al Quran dalam Mengobati Penyakit. 

DR. Ahmad menjabarkan dengan bahasa Arab yang fasih dan diterjemahkan oleh Halim Abu Muhammad, seorang Direktur Akademi Internasional Studi Bahasa Arab yang benar dan Studi Al Quran, Trainer dan penulis buku "Panduan Belajar Al Quran dari Nol sampai Mahir", serta Trainer dan Penulis buku "Tahsinul Qiraah". 

Sebuah pernyataan menarik dari DR. Ahmad bahwa seringkali ketika kita sakit, otak kita langsung berpikir dokter, atau kalau tidak, kita langsung berpikir obat. Padahal terkadang obat tak selalu langsung dapat menyembuhkan. Apa bisa menyembuhkan? kadang-kadang sakit ngga selesai. Lantas bagaimana interaksi kita dengan penyakit? 

Penyakit adalah terputusnya sesuatu dari kehidupan kita. Pemateri mengungkapkan bahwa pokok atau asas kehidupan ini adalah terhubung. 

Tubuh ini terhubung dengan apa? Al Asmaul Husna. Jika salah satu Asmaul Husna terputus dari kita, maka ada penyakit. 

Al Hayy (Yang Maha Hidup) yang memberi kita bisa bergerak 

Saat menggerakkan tangan, apa hakikatnya kita yang menggerakkan tangan? Ternyata tidak, yang menggerakkan tangan adalah Allah. Allah yang menggerakkan. Itulah Al Hayy. 

Kalau kita tidak bergerak, maka terputus Al Hayy. 

Apa nama Allah apa ada dalam kehidupan kita? 

Saat kita memiliki harta, saya punya pekerjaan. Yang posisinya luar biasa. Saya berinteraksi bukan dengan Al Hayy ismi. 

Tanya diri kita, apakah kita hadir nama Allah 100%? 

*

Jika kita mengalami sakit dan bertambah sakit, maka terputus Al Hayy. 

Nama kedua Allah Al Bari’ 

Asy Syafi: Penyembuh 

Kalau kita baca Al Quran, tidak ada nama Syafi tapi Al Bari’ul Mushawir 

Apa perbedaan Asy Syifa dengan Al Ibro 

Penyakit itu perkara terakhir, kita flu itu sesuatu di akhir: efek. 

Agar kita sembuh, harus dari awal. Misalnya makanannya yang bagus dan stamina yang baik.


Al Ibra: awalnya | awal dari penyakit 

Asy Syifa: Akhirnya 

Obat kimia mengobati akhir bukan awal. Al Ibra’ belum diobati karena penyakit. 

Meskipun obat kimia ada dimana-mana, tidak bisa mengobati Al Ibra. Mengapa? Karena harus kembali ke penyebab dulu, baru penanganannya. 

Allah tidak menginginkan kita sakit. 

Darimana datangnya penyakit

Pembicara mempertanyakan tentang darimana datangnya penyakit? Ternyata sebab-sebab penyakit pun datang dalam diri kita. Masalah ada penyakit karena :

  1. Pikiran yang buruk 
  2. Professional tapi hasad dalam pekerjaan. Orang mencintainya kenapa? Karena akhlak Tapi tidak kita berpikiran buruk tentang orang lain.  


Pokok Muslim As Salam (keselamatan). Jika terdapat pikiran yang buruk, maka akan berpindah ke hati. Hati yang terkena penyakit. Terputusnya dari Arhamurrahimin makna Rahmat. Menghadirkan kasih sayang manusia

Nabi Ayub a.s. sakit pertama kali yang diucapkan apa? Ya Rabbi, sesungguhnya aku memiliki penyakit dan Engkau menyembuhkan penyakit 


Di keluarga putus silaturahim? Menghubungkan sesuatu kepada orang lain.

Bapak ini lapar, ngga punya uang, dan menghadirkan makanan itu berkah untuk kita. 

Menghadirkan obat untuk orang itu misalnya silaturrahim 


Bisa menikah, maka itu silaturrahim. Menjalin silaturahim dengan manusia 100% insyaAllah. Alam materi saya memikirkan diri sendiri saja. Tetangga tidak tahu keadaan tetanggnya yang penting punya yang 



Memberi harus lebih banyak daripada kita menerima

Misalnya kita ke Dokter, diperiksa 1 juta. Jadi tidak ada berkah dalam hidupnya. Membayar banyak pasiennya. Prinsip dia mengambil keuntungan saja. 

Prinsip dari hidup kita: memberi bukan mengambil saja.

Begitulah Allah, memberi mata, memberi anak, memberi Kesehatan. Jadi Allah sangat suka kepada hamba yang memberi. Saya tamu, saya tidak memuliakannya. Harusnya memuliakannya, memberi. 

Setiap kita memberi, tiap kali itu Allah memberi. Dia ingin  jadi orang kaya, ingin sehat, ingin kuat. Kita memberi niscaya Allah akan memberi kita. Allah memberi penjagaan. 


Tidak berpikir menerima hanya berpikir memberi. Sebelum  berpikir apa yang kita dapatkan, pikirkan berapa yang kita beri. Allah akan memberi keberkahan.

Kita mesti yakin kesembuhan datang dari Allah, Ibu/Bapak pergi ke Dokter sebab-sebabnya sakit, kemudian sembuh. Tapi yang menyembuhkan pada hakikatnya adalah Allah.

Al Quran menyembuhkan supaya “Syifa” harus terkoneksi , terhubung dengan Allah yang Maha Pengasih. 


Kata syafa’a dan syifaaa’a ada syifa kemudian ditambahkan hamzah. 

Bapak atau Ibu membantu orang yang membutuhkan, menjalin hubungan dengan Allah.

Apa maksud Hamzah mengubah dari penyakit menjadi sembuh? Kefakiran jadi berkecukupan, lemah jadi kuat. 

Maka Bapak/Ibu peru “Hamzah”. Allah Arhamurrahimin penjagaan atau perlindungan dari Allah. Hadir kapan? Ketika Bapak/Ibu yang memulai pertama kali. 

Mengingat kejadian yang Allah jaga dari sebuah peristiwa 

Ini adalah nikmat dari Allah.

Perlu Syafa atau Syifa …?? Syifaaa …

Penyakit disembuhkan secara tuntas 

1. Ibra 

2. Syifa 

3. Rohmah 

Hingga kita betul-betul tuntas dari penyakit.


Berpikir Suatu yang Positif 

Ketika bilang “macet”, maka jalan akan lebih macet. Saya lagi di jalan masya Allah jalannya bagus. 

Menghadirkan penyakit missal sakit kepala.. Saya sakit jadi berat, bahkan bertambah karena penyakit itu kecil sekali. Bapak/Ibu mengubah menjadi besar. Bahkan lebih dari diri sendiri. 

Sakit kepala akan hilang datang dan pergi lagi. Datang ke rumah tanpa kabar. Begitulah keadaan sakit.

Berinteraksi dengan penyakit anggap tidak ada. Kalau ngga punya yang, anggap punya banyak uang.

Yakini, akan datang kepada Bapak/Ibu sesuatu yang dari luar tidak akan datang kecuali dari diri kita sendiri. 


Ingin kaya tapi miskin, karena dirinya tidak meyakini terus. Harus meyakini kalau saya membesarkan diri sendiri. 

Apa yang kita bicarakan akan terjadi. Mahad saya kecil. Tidak. Katakan, “Saya punya Mahad terbesar di dunia.”

Hidup positif dalam pikiran, dalam ucapan. 

Jangan pernah sharing saya sakit, kabari “Saya sehat”. Maka penyakit akan pergi. 

Penyakit itu datang dari setan. Apapun yang buruk datang dari setan. Telinga hanya mendengar yang baik-baik saja. Kalimat-kalimat yang baik. Pagi yang cerah. Ada yang berkata buruk pada Ibu, keluarkan dari telinga kiri. 

Jangan bersahabat kecuali dengan Mukmin. Mukmin adalah seseorang yang memberi Anda kekuatan positif. 

Allah menyukai orang yang merasa cukup. Setiap hari kita harus tersenyum. 

Setiap hari Jamaah semua ini keliru. 

  1. Menyebarkan kata-kata positif 
  2. Kebaikan apa yang akan saya lakukan 

Silaturahim pergi ke tempat kerja dengan senyum. Contoh: Musa menolong 2 perempuan mengambil air sumur. 

Ubah hidup kita. Jangan lihat diri kita sakit. Bapak Ibu tidak sakit. Jangan katakan lemah. Bapak/Ibu tidak lemah.

Hapus kata: 

  1. Saya tidak bisa 
  2. Saya tidak mampu

Katakan saya bisa, saya mampu karena saya menyembah Allah. Segala problematika menjadi nol.

Penelitian 90% sakit fisik adalah sakitnya jiwa. Ketika sakit bukan perlu sembuh, tapi Rahmah. 


Sebab kesembuhan 

1. Iqro Al Fatihah dengan niat kesembuhan 

Wudhu, Tarik nafas, tenangkan diri 

Letakkan tangan di tempat yang sakit dengan niat kesembuhan. Ibu harus yakin akan sembuh dari Allah

2. Banyak minum air –meminimalisir penyakit 

3. Jangan dikenang atau dipiara penyakit 


Manusia yang paling dicintai Allah adalah 

1. Manusia yang bermanfaat untuk orang lain 

2. Memberi kebahagiaan kepada orang lain 


Demikian hasil seminar yang dapat kami sampaikan. Terima kasih (Sri Al) 


Komentar