e-clipping Riset Audio Book: Potensi Pasar dan Peluang untuk Industri Podcast dan Audio Book Untuk Bisnis Syaamil
Ada Potensi Pasar, Storytel Garap Pasar Audiobook di Indonesia
Pasar audio streaming semakin bertumbuh dengan konten-konten yang memiliki segmen tersendiri. Tidak hanya dalam rupa musik maupun podcast, konten audiobook ternyata memiliki segmennya sendiri. Kehadiran audio streaming ini hadir menemani video streaming yang semakin ngetren di pasar over-the-top (OTT) Indonesia.
Di tengah pasar tersebut, platform audiobook sedang bertumbuh untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam mengakses buku-buku dengan cara lain. Besarnya potensi pasar audio di Indonesia ini mendorong Storytel, salah satu platform layanan audiobook global meluncur ke pasar Indonesia pada Maret lalu.
Aplikasi audiobook yang berbasis di Swedia ini menyuguhi konsumen Indonesia dengan 150.000 audiobook di tahap awal dalam beragam genre, baik berbahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. “Storytel merupakan layanan streaming untuk audiobook yang kontennya 100% tentang buku-buku. Kontennya dikemas secara modern yang pada akhirnya akan menghubungkan audiens dengan kesejahteraan, kreativitas, dan prespektif yang lebih luas,” ujar Indriani Widyasari, Country Manager Storytel Indonesia kepada Marketeers.
Indirani menambahkan, Storytel mengusung misinya untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih berempati dan kreatif dengan membagikan cerita-cerita dalam buku kepada siapa saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Ia percaya, cerita-cerita itu akan lebih gampang diakses dan dibagikan ketika dikemas dalam audio dan ditempatkan ke dalam aplikasi.
“Indonesia merupakan pasar besar di gaya hidup digital sudah mulai masif diadaptasi. Kami membawa cerita-cerita dari para penulis dan kreator konten hebat dari Indonesia. Dan, audiobook ini menyuguhkan sesuatu yang tidak disuguhkan film atau musik. Ini ibarat rekreasi yang bermakna,” katanya.
Di pasar Eropa seperti Swedia maupun Amerika Serikat, sambung Indriani, audiobook sudah menjadi bagian gaya hidup sehari-hari. Mereka bisa menghabiskan rata-rata 30 jam per bulan untuk mendengarkan audiobook. “Bahkan, banyak dari mereka menggantikan waktu untuk menonton dengan mendengarkan audiobook ini. Ini sudah menjadi bagian budaya populer, khususnya di negara-negara yang sudah mengenal audiobook sejak lama. Kami percaya ini akan terjadi di Indonesia,” ujar Indriani.
Storytel menyasar kalangan Gen Z dan Milenial di Indonesia, khususnya para pecinta buku, dengan menghadirkan cara lain dalam menikmati buku. Platform ini, sambung Indriani, menjadikan dukungan untuk orang-orang yang ingin mengisi momen me time maupun eskapisme dengan konten-konten berkualitas.
“Diferensiasi kami cukup kuat di Indonesia. Boleh dibilang kami menjadi satu-satunya penyedia audiobook berbahasa Indonesia, menyajikan buku-buku berbahasa Indonesia, dengan narator tak sembarang dengan kurasi ketat. Peran narator penting demi menciptakan magic atau agar konten buku tersebut hidup,” katanya.
Saat ini, Storytel menghadirkan 19 genre buku. Genre buku berbahasa Indonesia meliputi fiksi dari para penulis ternama di Indonesia, seperti Dewi Lestari, Tere Liye, Asma Nadia, hingga Ahmad Fuadi. Selain fiksi, Storytel juga menghadirkan buku pengembangan diri, biografi, dan buku anak. Untuk mendapatkan konten-konten tersebut, Storytel Indonesia sudah menggandeng banyak penerbit besar. Storytel juga menggandeng para narator, seperti Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, dan Fedi Nuril.
Untuk mengembangkan konten, Indriani menyebut pihaknya sedang menyiapkan konten original alias audio first yang mana menjadi konten eksklusif yang hanya bisa dinikmati di platform audiobook. “Kami sedang menyiapkan sekuel baru Sherlock Holmes melalui kerja sama dengan Anthony Horowitz, novelis dunia asal Inggris. Konten ini akan hanya ada dalam bentuk audio dan hanya di Storytel. Artinya, sekuel ini belum ada di bukunya atau di filmnya,” katanya.
Terkait monetisasi, seperti platform VOD pada umumnya, Storytel menerapkan sistem berlangganan. Pada awal, Storytel Indonesia memberikan masa percobaan gratis selama tujuh hari untuk pengguna baru dan setelahnya akan dikenai biaya berlangganan.
“Yang kami jual adalah konten-konten premium. Dan, pada tahun ini, kami fokus lebih dulu untuk memperkenalkan Storytel ke masyarakat Indonesia dan memperbanyak konten-konten berbahasa Indonesia,” pungkas Indriani.
Sumber: https://www.marketeers.com/ada-potensi-pasar-storytel-garap-pasar-audiobook-di-indonesia/
Podcast dan Konten Audio Kian Digemari, Platform Audio Streaming NOICE Fasilitasi Konten Kreator Bandung untuk Unjuk Gigi
goodmoneyID – Konten audio seperti podcast, audiobook ataupun live audio, kian meraih popularitas. Tidak hanya karena kualitas kontennya, tetapi juga dari sisi fleksibilitas yang memungkinkan pendengarnya untuk tetap menikmati konten tanpa harus melihat layar (screenless) atau sambil melakukan banyak kegiatan sekaligus (multitasking).
Popularitas konten audio tidak hanya terasa di ibukota, tetapi juga di berbagai daerah dan kota di Indonesia, termasuk Bandung. Platform konten audio streaming lokal NOICE, mencatat Bandung sebagai salah satu dari 5 kota dengan pendengar podcast terbanyak di platform tersebut dengan lebih dari 250,000 pengguna hingga saat ini berasal dari Bandung.
NOICE menghadirkan berbagai vertikal seperti podcast, radio, audiobook dan yang terbaru adalah fitur live audio, dengan mengusung fitur interaktif yang memungkinkan kreator untuk dapat berkomunikasi langsung dengan pendengarnya. Hal lainnya yang membuat NOICE berbeda adalah konten dengan cita rasa lokal yang menjadi unggulan di berbagai daerah. NOICE berkolaborasi dengan konten kreator di berbagai daerah, termasuk Bandung, untuk menciptakan konten dengan dialek lokal serta mengangkat topik yang relevan dengan wilayah tersebut.
Chief Business Officer (CBO) NOICE, Niken Sasmaya mengatakan Bandung selalu memiliki daya tarik spesial bagi industri kreatif di Indonesia, yang terlihat dari menjamurnya radio lokal dan podcast asli Bandung. Di tengah banyak tantangan yang terjadi untuk media lokal, data kami mencatat kota ini menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan konten kreator sekaligus pendengar podcast terbanyak di tanah air.
“Melihat potensi yang menjanjikan ini, kami ingin merangkul konten kreator asal Bandung, termasuk radio-radio favorit warga Bandung untuk dapat menjangkau audience secara lebih luas dengan memanfaatkan teknologi dan fasilitas yang kami hadirkan di NOICE. Bersama-sama kita akan kembangkan ekosistem konten audio di kota Bandung.” kata Niken Sasmaya, dalam keterangan resminya, Selasa (26/10).
Sebagai perusahaan anak bangsa, NOICE sangat memahami karakteristik konten yang sesuai dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal ini ditunjukkan dengan genre konten menarik asal daerah yang dibawakan dengan dialek lokal terus berkembang.
“Konten-konten yang menjadi favorit pendengar NOICE mencakup genre komedi, horror, hobi, hingga cerita lokal. Banyak perantau rindu kampung halaman dan ketika mereka mendengar podcast dari kota asalnya di NOICE, mereka merasa relate dan terkoneksi secara emosional, merasa pulang ke kota tersebut. Inilah alasan kenapa kami ingin merangkul lebih banyak lagi konten kreator lokal, khususnya Bandung, untuk berkarya dan membangun komunitasnya di NOICE,” jelas VP of Content, NOICE, Thomas Raditya.
Berbagai konten hyperlocal bercita rasa lokal yang memiliki ke-khas-an tersendiri -telah menarik perhatian besar dari Paranoice – sebutan untuk pengguna NOICE – yang multikultural dari berbagai pelosok negeri. Para konten kreator di Bandung yang telah berkarya di NOICE misalnya, banyak mengangkat topik seputar sejarah, olahraga sepak bola, kuliner, gaya hidup, problem sosial, hingga kebiasaan-kebiasaan khas warga kota kembang.
Konten ini terbukti tidak hanya menarik minat pendengar untuk menjelajah beragam konten yang tersedia di NOICE, tetapi juga menumbuhkan loyalitas mereka terhadap konten dan kreator yang mereka sukai. Hal ini juga didukung dengan adanya fitur interaktif yang menghadirkan pengalaman unik bagi pendengar untuk dapat berinteraksi dengan kreator dan Paranoice lainnya.
Podcaster NOICE Exclusive Balik Bandoeng, Fiqie Melano mengatakan “Platform NOICE menawarkan konsep yang berbeda bagi kami untuk berkreasi. Kami diberikan keleluasaan untuk mengangkat topik, konsep lokal Bandung dan dialek Sunda sebagai medium menyampaikan pesan melalui podcast, sehingga kami merasa lebih dekat dengan pendengar. Apalagi yang dibahas dalam podcast kami adalah Persib Bandung, Maung Bandung yang merupakan kebanggaan wargi bandung. Dengan penggunaan bahasa lokal dan mengangkat topik terkini di Bandung, topik podcast kami terasa lebih hidup dan mengena.”
Selain Balik Bandoeng, beberapa podcast di NOICE yang mengangkat topik tentang Bandung antara lain BDG Podcast, BGST (Bandung Ghost Story), Cerita Teh Fidy, The Soleh Solihun Interview, Podcast Keren, Rompies Daddies, Podcast Subjective dan Minggulibur Podcast.
Demi mendukung komitmennya untuk menghadirkan rumah konten audio terlengkap di Indonesia, NOICE menyediakan fasilitas studio beserta tim produksi untuk mendukung kreator yang ingin berkreasi membuat konten original di NOICE. Fasilitas ini rencananya tidak hanya tersedia di Jakarta tetapi juga akan hadir pada beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Fasilitas ini memungkinkan para konten kreator untuk memproduksi konten menarik bercita rasa lokal khas Bandung Konten kreator juga dapat memanfaatkan NOICE Live sebagai fitur live audio terbaru dari NOICE dalam membangun komunitas pendengar loyal mereka pada daerah masing-masing.
Di NOICE Live, kreator bisa berinteraksi langsung dengan pendengar melalui kolom komentar dan bahkan bisa diangkat sebagai pembicara dan mengobrol langsung dengan kreator favorit. Selain itu, para kreator juga akan didukung dari segi promosi oleh tim Marketing NOICE, sehingga mereka bisa menjangkau basis pendengar yang lebih luas.
“Dukungan bagi para konten kreator berupa fasilitas produksi, promosi hingga teknologi yang tersedia di platform NOICE kami harapkan bisa memberi kemudahan bagi para kreator untuk mengembangkan bakat dan potensinya di industri konten audio serta membuka lapangan kerja baru sehingga memberikan dampak positif terhadap kemajuan ekonomi yang lebih luas. Kami dengan tangan terbuka siap berkolaborasi dan mendukung kreativitas para konten kreator lokal di Bandung,” tutup Niken.
Audiobook: Cara Seru “Membaca” Buku Digital yang Ramah Tunanetra
Agaknya kita semua sudah pernah mendengar kata mutiara bahwa buku adalah jendela dunia. Memang, segala ilmu pengetahuan bisa kita baca di buku. Jutaan penulis juga berbagi isi pikiran dan memperpanjang “usia” mereka dengan buku. Betapa banyak buku-buku berkualitas yang bisa kita baca sementara penulisnya sudah lama tiada.
Namun berkembangnya era digital membuat penulis hingga pelaku industri bisa menciptakan format baru dari buku, yaitu buku digital. Lumrahnya kita mengenal buku digital dalam bentuk buku elektronik (ebook), tapi di samping itu ada juga bentuk lain yaitu audiobook yang tidak perlu dibaca.
Lho, kok begitu?
Audiobook, Buku Digital yang Tidak Perlu Dibaca
Sederhananya, audiobook adalah buku dalam versi audio. Seseorang atau sekelompok orang membaca dan menyuarakan buku tersebut dan merekamnya menjadi berkas audio tertentu. Rekaman itulah yang kemudian didistribusikan ke pembaca atau lebih tepatnya pendengar.
Berkat audiobook, seseorang tidak perlu lagi membaca sebuah buku secara konvensional—ia hanya perlu memasang telinga untuk menyimak rekaman isi buku secara seksama. Format buku audio ini memberikan keleluasaan bagi kita untuk bisa menikmati buku-buku dengan seru.
Anda tidak perlu duduk manis menatap layar—layaknya membaca ebook—saat mendengarkan audiobook, bukan? Itu berarti ia bisa “dibaca” secara seru, baik saat rebahan, atau melakukan aktivitas-aktivitas ringan.
Buku Digital yang Ramah Tunanetra
Audiobook awalnya dikembangkan untuk tunanetra
Audiobook sebenarnya bukanlah barang baru. Dikutip dari pbs.org, buku format audio ini telah dikembangkan semenjak 1932. Kala itu sebuah yayasan sosial di Amerika, The American Foundation for the Blind, membuat rekaman isi buku di sebuah piringan hitam. Sedangkan istilah “audiobook” sendiri baru jadi istilah standar industri pada 1994.
Sebagaimana sejarahnya, audiobook memang dibuat untuk membantu para tunanetra untuk dapat menikmati isi buku. Hadirnya inovasi ini menjadi sebuah bantuan besar bagi mereka lantaran buku dengan huruf Braille itu sangat terbatas. Belum lagi butuh waktu tersendiri untuk mempelajari huruf-huruf Braille.
Hadirnya audiobook dapat membuka peluang bagi para penyandang tunanetra untuk bisa membaca buku dengan lebih mudah. Dengan kata lain, mereka juga dapat memperluas cakrawala pengetahuan dengan membuka buku—yang notabene adalah jendela dunia—melalui pendengaran mereka.
Potensi Pasar dan Peluang untuk Industri Digital Lokal
Di era kekinian ini, konten audiobook tentu bukanlah sebatas buku yang diciptakan untuk tunanetra semata. Audiobook dapat didengar oleh siapapun, bahkan di usia berapapun dan di manapun. Tentu saja ini menciptakan sebuah pasar yang sangat potensial.
Audible, anak usaha dari Amazon, merupakan pemain terbesar di industri audiobook saat ini. Tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga dunia. Aplikasi mereka bahkan sudah diunduh lebih dari 100 juta kali di Google Play Store.
Lebih lanjut, Amerika Serikat agaknya adalah rujukan terbaik mengenai pasar audiobook. Merujuk pada publikasi Statista, total penjualan konten audiobook di Amerika Serikat mencapai 1,3 miliar dolar Amerika pada tahun 2020. Nilai ini meningkat dari tahun 2019 lalu.
Hal di atas mengindikasikan bahwa industri audiobook punya potensi pasar yang besar, tidak hanya di Amerika tetapi juga di Indonesia atau belahan dunia yang lain. Bukankah saat ini sudah sangat banyak masyarakat kita—terutama kawula muda—yang suka mendengar konten podcast? Bahkan bisa saja pembaca adalah salah satu penikmat konten berbasis audio itu.
Semoga ke depan peluang ini dapat digarap dengan lebih baik oleh industri digital di Indonesia. Ada banyak sekali buku-buku Indonesia berkualitas yang siap dialihkan bentuknya ke format audio. Tapi tentu saja hal itu harus dilakukan dengan mempertimbangkan banyak aspek.
Mulai dari mengembangkan platform atau aplikasi audiobook lokal, menciptakan regulasi terkait hak cipta demi kesejahteraan penulis buku asli, penyuara untuk rekaman, dan semua pihak yang terlibat. Meski cukup banyak “pekerjaan rumah” untuk memasifkan industri audiobook ini, saya percaya bahwa Indonesia tidak kekurangan tenaga-tenaga handal untuk mewujudkannya.[]
Sumber
https://digitalbisa.id/artikel/audiobook-buku-digital-yang-ramah-tunanetra-Hhp7d

Komentar
Posting Komentar